"rabbanaa
laa tu'aakhidznaa innasiinaa au akhtha'naa rabbanaa wa laa tahmil 'alainaa
ishrangkamaa hamaltahu 'alalladziina mingqablinaa rabbana wa laa tuhamilnaa maa
laa thaaqatalanaa bih wa'fu ‘annaa waghfirlanaa warhamnaa annta maulaanaa
fanshurnaa 'alaqaumilkaafiriin.
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami lantaran kami lupa atau kami tersalah.
Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana
yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Tuhan kami,
janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak sanggup memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, rahmatilah kami, Engkau'lah Penolong kami,
maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS, al-Baqarah, 2:286)
Bunda, aku menangis didalam tidurku
Aku melihat dunia sepi tanpa ada manusia satu pun
Aku berdiri ditengah kesepian itu.
Heran, setiap hari aku melewati jalan ini
aku selalu melihat Pak Tua itu tersenyum bahagia. Tak pernah aku melihat dia
bermuram durja. Padahal sepanjang sepengetahuanku dia baru saja mengalami
kecelakaan yang menyebabkan dirinya tidak bisa melihat lagi. Sampai suatu hari
rasa penasaran ini tidak bisa tertahankan lagi aku bergegas menghampirinya.
“Pak..boleh saya
menanyakan sesuatu kepada Bapak.”
“Oh,
Silahkan Nak.”
“Setiap hari
saya selalu melewati jalan ini, saya tahu Bapak habis mengalami musibah yang
menyebabkan Bapak kehilangan penglihatan Bapak.”
“Iya betul.”
“Tapi..kenapa
muka Bapak selalu tersenyum bahagia? Tidakkah bapak sudah tidak dapat melihat
mentari bersinar dipagi hari, warna-warna yang bermain didunia ini?”
“Anakku …
Semenjak saya dilahirkan didunia ini saya bersyukur kepada Allah bahwa saya
diberi kenikmatan yang luar biasa untuk bisa melihat kebesaranNya itu…
dan sekarang, dengan kondisi saya yang seperti ini saya kembali diberi
kenikmatan yang jauh lebih luar biasa untuk bisa menikmati rasa dari kebesaranNya itu. Jadi untuk apa saya harus bersedih jika Allah menambahkan anugrahnya lagi."
Dan, akupun
terdiam malu akan keberadaanku didunia ini.
Bunda, aku menangis didalam mimpiku
Aku terus berlari mengejar bayanganku sendiri
Lalu aku terjatuh didalam kesepian itu.
Adikku Lara baru berumur 8 bulan. Usia dimana sedang
mencoba semua keajaiban yang dunia tawarkan kepadanya. Sekarang Lara sedang
memulai belajar untuk berjalan. Lucu melihatnya takut-takut untuk melepaskan
peganggannya di tepi meja. Sebentar-sebentar badannya mulai limbung. Tapi dia
coba untuk bertahan berdiri. Satu langkah kaki dia ayunkan, senyum mulai
menghias mukanya. Kemudian dia mulai melangkahkan kakinya kembali, badannya
mulai limbung. Tangannya mencoba menggapai-gapai meja, berusaha untuk mencari
pegangan. Tapi apa daya tangannya tak sampai dan Lara pun terjatuh. Kepalanya
terbentur pinggiran meja, dia mulai menangis. Aku segera menghampiri Lara untuk
mengendongnya. Tak lama setelah itu Lara berhenti menangis dia kembali minta
untuk turun dan setelah itu Laraku kembali mencoba untuk berjalan.
Dan, aku pun terdiam malu akan keberadaanku didunia ini.
Bunda, aku menangis didalam
jagaku
Aku melihat dirimu berdiri
disampingku sambil tersenyum
ditengah kesepianku.
“rabbi auzi’nii an
asykura ni’matakallatii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala
shaalihan tardhaahu wa ashlihlii fii dzurriyyatii innii tubtu ilaika wa innii
minalmuslimiin.
Ya Tuhanku,
berilah aku kemampuan untuk mensyukuri ni’mat-Mu yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku berbuat amal kebaikan (shalih)
yang Engkau ridhai, berikanlah kebaikan kepadaku dengan memberi kebaikan kepada
anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan sesunguhnya aku termasuk
orang-orang yang berserah diri.” (QS, al-Ahqaf, 46:15)
untuk semua teman-temanku..salut untuk kalian semua
Recent Comments